China dan Malaysia menerapkan transfer teknologi dari perusahaan asli ke mitra lokal.
Proton, mobil nasional Malaysia, hasil alih teknologi Mitsubishi Jepang. (Dokumentasi Proton Edar Indonesia)
Ketidakberdayaan pemerintah dalam
melakukan alih teknologi mengundang keprihatinan dari Ketua Komite
Inovasi Nasional (KIN), Zuhal. Dia mengatakan, saat ini pemerintah tidak
pernah memikirkan adanya alih teknologi, hal ini tercermin dari
banyaknya investasi yang menggunakan berbagai macam teknologi tapi hanya
sedikit yang dihasilkan.Dia mencontohkan tentang yang terjadi antara pemerintah China dengan raksasa komputer dunia IBM. China memperbolehkan IBM masuk ke pasar mereka yang sangat besar, tapi mereka harus membuat inovasi untuk produk baru asli China. Pada saat itu IBM diberi insentif, tapi di sisi lain ditekan untuk membuat produk baru. "Jadilah Lenovo," ujarnya
Di Malaysia juga hampir sama. Mitsubishi yang ingin masuk ke pasar Malaysia juga diminta membangun merek lokal kerjasama dengan perusahaan setempat, dan menghasilkan Proton. Mereka tidak boleh masuk Malaysia dengan merek asli. "Jadilah itu mobil nasional," katanya.
Selain memperbanyak lapangan kerja, menurut Zuhal, transfer teknologi juga sangat menguntungkan. Produsen asal tak hanya menjadikan pasar produk mereka.
Transfer teknologi ini yang jarang dimiliki Indonesia. "Indonesia punya Kijang, tapi perakitannya saja. Karena masih menggunakan nama Toyota," katanya.
Intinya, Zuhal mengatakan, para pabrikan asing yang memiliki pasar di Indonesia harus bekerjasama pengusaha lokal, sehingga ada transfer pengetahuan. "Jangan biarkan mereka masuk dengan gratis," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar